Jumat, 17 Agustus 2007

Romantisme

Banyak pasangan yang telah lupa untuk menyisihkan waktu berdua saja dengan pasangannya. Mereka berpendapat bahwa seiring dengan berjalannya waktu pernikahan mereka, maka kebersamaan itu juga akan berbanding lurus. Padahal tidak demikian adanya. Dengan sejuta kesibukan yang kita miliki, belum lagi dengan hadirnya anak - anak ditengah - tengah pernikahan kita, kita semakin tidak memiliki waktu untuk berdua saja.
Menghabiskan waktu berdua saja sangatlah penting dalam perjalanan pernikahan. Bukannya tidak mungkin kalo dalam perjalanan kebersamaan kita ada hal - hal yang tidak sempat kita bahas, hanya karena waktu kita yang semakin berkurang untuk berdua, atau kita sibuk dengan tugas dan kewajiba kita masing - masing.
Tidak harus mahal kok untuk bisa menyisihkan waktu berdua. Saat ada waktu libur nasional, walaupun hanya 1 hari, cobalah untuk meluangkan waktu untuk pergi berdua saja. Bisa ketempat yang baru, yang belum pernah anda berdua kunjungi, tapi bisa juga ketempat yang memang pernah memiliki arti tersendiri untuk anda berdua. Masalah anak - anak, tak ada salahnya kok kalo sesekali anda menitipkannya kepada orang yang terpercaya. Anak - anak pastilah mengerti dengan kondisi orang tuanya yang memang butuh privaci dalam kehidupan mereka.
Jangan sampai kesibukan anda menjadikan hubungan anda berdua hanya sebagai sebuah kewajiban dan ritual saja. Tapi jadikan juga hubungan kaliaan berdua sebagai sebuah hubungan yang nantinya akan memperkokoh pondasi rumah tangga kalian berdua. Karena bagaimanapun kita sebagai manusia tetaplah memerlukan waktu untuk menikmati kehidupan yang harmonis dan dinamis.

Kamis, 16 Agustus 2007

Hanya 3 Kata

Sering kali banyak dari kita lupa bahwa dalam kehidupan ini sangat penting untuk menghargai orang lain, terutama orang terdekat kita. Kadang kita cenderung cuek dengan kondisi orang terdekat kita. Kita menganggap bahwa kebersamaan kita dengan mereka membuat mereka tak lagi layak untuk mendapatkan hal yang special dari kita. Padahal seharusnya kita jauh lebih menghargai orang terdekat kita, karena dengan merekalah kita menghabiskan separuh bahkan seluruh waktu hidup kita. Orang terdekat itu bisa orang tua, saudara, teman, sahabat, bahkan suami ataupun istri kita.
Mereka mungkin tak pernah meminta apapun untuk hidup mereka, melihat kita bahagia saja pastilah mereka juga ikut merasakan bahagia yang sama. Namun sebagai orang yang menghargai orang lain, seharusnya kita lebih dalam memperlakukan mereka. Terutama dalam bersikap dan bertutur kata. Ada tiga kata sederhana yang sesungguhnya mempunyai makna sangat dalam, bahkan mampu meruntuhkan segala keadaan yang mengkin sedang tidak mengenakkan antara kita dengan orang terdekat kita. Tiga kata yang selama ini mungkin sebagian dari kita telah lupa untuk mengungkapkannya. Tiga kata yang sangat sepele, sehingga kita kadang tidak sanggup melihat kedalam makna yang terkandung didalamnya.
Tiga kata tersebut adalah Maaf, Tolong dan Terima kasih…saat kita meminta sesuatu pada orang lain kadang kita tak pernah lupa untuk menggunakan kata ini, Tolong. Sedangkan dengan orang terdekat kita, kita seenaknya menyuruh mereka melakukan apapun untuk kita ataupun mengambil keperluan kita. Saat kita melakukan kesalahan pada orang lain, tanpa canggung kita langsung meminta Maaf, bahkan dengan wajah yang sangat menyesal. Sedangkan dengan orang terdekat kita, kita cenderung menyepelekan segala kesalahan kita kepada mereka, karena kita menganggap mereka pastilah memaafkan kita tanpa kita harus memintanya. Saat kita berbelanja ataupun dilayani oleh orang lain kita langsung mengucapkan Terima Kasih atas keletihan dan kerja keras mereka kepada kita. Tapi apakah kita pernah mengucapkan terima kasih pada saat istri kita yang menyiapkan sarapan untuk kita, atau saat suami kita membantu menurunkan belanjaan kita, atau pada saat Ibu kita memasakkan makanan kesukaan kita…Rasanya sedikit dari kita yang melakukan hal tersebut bukan??!! Belum terlambat untuk kita memperbaiki cara kita bertutur kata dan bersikap terhadap orang terdekat kita. Terutama terhadap orang tua, suami/istri, saudara dan sahabat, karena merekalah orang yang akan menjadi bagian dalam hidup kita.

Terpedaya Sugesti

Banyak dari kita sering mendengar hal – hal yang kalo dipikir dengan akal sehat mungkin tidak masuk akal. Seperti saat kita ingin menggelar hari pernikahan, banyak dari orang tua kita yang tak hanya sibuk menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan terlaksananya perhelatan itu, tapi mereka juga sibuk menanyakan kepada “orang – orang tertentu” mengenai kecocokan kita dengan pasangan kita, tentang tanggal baik pernikahan kita dsb. Saat kita ingin pindah rumah juga, kita selalu disibukkan dengan memilih lokasi rumah yang letaknya baik menurut aturan “beberapa ilmu”, belum lagi tanggal pindah rumahnya, haruslah lagi – lagi dihitung dengan perhitungan yang tidaklah mudah.
Kalo kita tidak melakukannya, saat terjadi sesuatu yang tidak baik ditengah perjalanan kita, kadang kita kembali mengingat hal – hal yang dulunya sengaja kita lupakan (karena kecenderungan tidak masuk akal itu), padahal hal – hal yang tidak baik didepan kita itu bisa saja mengandung maksud banyak hal. Salah satunya mungkin kita harus lebih dewasa lagi dengan adanya ujian – ujian yang kita alami.
Hal yang buruk itu juga kadang hadir karena kita terlampau tersugesti dengan penuturan bahwa kalo kita tidak melakukan hal – hal yang “wajib” itu maka kita akan mendapatkan hal yang tidak baik. Padahal sebenarnya saat kita tidak melakukannya pun tidak akan menyebabkan apapun terhadap kita, bahkan ada kalanya saat hal – hal “wajib” itu tidak kita lakukan kita menjadi jauh lebih baik. Nah, apa yang harus kita lakukan saat kita terbentur pada kenyataan seperti itu??!! Mudah, kita hanya harus berpositif thingking terhadap apapun kejadian yang telah, sedang dan akan kita lalui. Bukankah Allah tergantung bagaimana perasaan/pikiran hambaNya. Maka saat kita berfikiran buruk terhadapNya, maka itulah yang akan kita dapatkan. Begitu juga sebaliknya. Kita juga harus selalu berdo’a sebelum melakukan apapun. Karena dengan do’a bisa menjauhkan kita dari takdir – takdir atau kejadian – kejadian buruk yang akan menimpa kita. Sisanya ya sebagai manusia kita wajib berserahdiri atas apapun yang Allah gariskan pada kita. Dengan begitu kita tidak akan lagi merasa tidak nyaman dengan hal – hal yang “wajib” kita lakukan padahal hal tersebut tidak masuk akal.