Minggu, 07 Juni 2009

Cinta ga' harus memiliki??!!

Lagi-lagi isi blog saya kali ini adalah sebuah curhat dari beberapa teman saya yang sampai saya terbitkan tulisan ini, mereka belum juga menemukan cinta sejatinya.... Saya selalu berusaha memaknai semua curhat mereka sebagai bentuk cerita yang menarik yang bisa saya ambil beberapa hikmahnya terhadap kehidupan saya sekarang. Mereka bercerita tentang kegundahan hati mereka yang sampai sekarang belum juga bisa merasakan seperti apa yang saya rasakan. Ya menikmati indahnya berkeluarga. Mereka juga bercerita tentang hubungan yang sedang mereka bina dengan pasangan tidaklah mengalami banyak kemajuan, bahkan beberapa mengalami jalan di tempat. Hem....
Saya mencoba jujur pada mereka, bahwa apa yang mereka alami bukanlah hal yang aneh, banyak beberapa pasangan yang mengalami hal yang sama. Yang perlu di pahami adalah, Cinta haruslah realistis, dan bisa menerima segala konsekwensi. Bahwa Cinta adalah 1 hal yang tidak mungkin bisa kita paksakan. Bahwa Cinta ga selalu harus saling memiliki.... Nah kalimat terakhir saya ini yang banyak mendapatkan tentangan dari teman-teman saya. Mereka menganggap bahwa semua hal adalah sia-sia saat kita tak bisa saling memiliki. Tapi saya kembali menjelaskan, bahwa karena Cinta itulah kita harus bisa berbesar hati melihat pasangan kita bahagia, toh pasti akan ada pengganti terbaik juga untuk kita, ya kan...
Hem... Semua memang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata, apa yang mereka rasakan sekarang mungkin adalah sebuah bentuk kecemasan sederhana dari "ketidakberdayaan" mereka terhadap hubungan yang sedang mereka bina, ya saya mencoba maklum. Toh curhat mereka tidak perlu di tanggapi dengan nada sinis atau paksaan untuk menerima masukkan dari saya kan...

Sabtu, 30 Mei 2009

Parno....

Selama saya kerja di kantor saya yang sekarang, banyak hal yang menurut saya (juga teman-teman lainnya) menunjukkan banyak kejanggalan. Bagaimana tidak, semua lini bersandar hanya pada 1 keputusan, yaitu keputusan Boss. Memang, apapun yang kita lakukan pasti keputusan Boss lah yang menentukkan, tapi di kantor saya hal tersebut sangat tidak bisa di tolerir. Hampir semua hal harus di diskusikan sama Boss, walaupun hanya sekedar memberikan data sepele ke customer. Seperti halnya kemarin, saat teman saya, bagian Accounting mendapat telp dari kantor pajak. Boss bertanya dari A-Z, seperti kita itu tertuduh atau penjahat. Padahal kantor pajak hanya ingin minta kelengkapan data perusahaan saja, ga lebih. Tapi rasanya Boss begitu parno, sampai ga percaya dengan keterangan yang di sampaikan teman saya.
Saya di panggil masuk keruangannya, di introgasi mengenai telpon tersebut, maklum teman saya itu pegawai baru, tepatnya bulan Januari kemarin dia bergabung di kantor. Boss seolah ingin mencari second opinion mngenai telpon itu, tapi aku ga mau memberikan keterangan apapun . Aku ga mau nantinya keterangan aku justru menambah ke parno-an si Boss.
Ujung punya ujung, Boss diskusi sama teman aku, yang akhirnya di putuskan data tersebu boleh untuk di berikan ke kantor pajak. Ya ampun...hanya hal sepele gitu aja, rasanya kaya memutuskan 1 masalah yang besar, yang menyangkut kehidupan orang banyak. Orang kok parno banget, sampai ga percaya sama orang lain.

Rabu, 27 Mei 2009

"Merayu" Allah...

Sekarang ini saya sedang dalam masa "merayu" Allah. "merayu" untuk mendapatkan apa yang saya mau, yang saya yakin hanya Allah lah yang bisa memberikannya. Saya mencoba intropeksi diri, atas apa yang saya lakukan selama ini, mungkin masih sangat jauh dari apa yang seharusnya saya lakukan sebagai manusia. Saya masih mementingkan ego saya di atas kepentingan anak dan suami saya, saya juga masih "jauh" dari Allah. Bagi saya, rasanya mustahil untuk Allah mengabulkan so'a saya. Namun, entah dapat kekuatan dari mana, saya seolah semangat untuk "merayu" Allah agar Dia mau mendengar do'a saya, atau bahkan yang lebih nyata adalah dengan mengabulkannya. 
Saya tau, Allah sayang kepada saya...Allah juga ga akan pernah mendzalimi hambanya. Keyakinan saya itu, di amini oleh suami. Bahwa ga ada yang ga mungkin bagi Allah. Allah maha tau segala kebutuhan hambanya, jauh sebelum hambanya meminta. Sekarang hanya masalah waktu, dan kegigihan kita "merayu" Allah. Seperti halnya Pasya, saat dia ingin sesuatu, pastilah dia langsung merengek dan "merayu" saya dengan tangisannya. Segala hal dia lakukan, dari mulai menarik tangan saya, memanggil nama saya, sampai berteriak memaksa jika perlu. 
Itulah yang saat ini saya lakukan terhadap Allah. Saya berusaha "menarik" perhatian Allah dengan segala perbuatan saya (tentunya saya berusaha sebaik mungkin), saya juga "merengek" dalam setiap do'a saya, tak lupa saya "merayu"Nya dengan tangisan saya yang pilu. Kalo sudah begitu saya yakin Allah akan mendengar do'a saya. Kalaupun sampai saat ini belumlah terkabul, tentu Allah sedang menguji kesabaran dan kesungguhan saya dalam meminta, bukankah saat Pasya meminta sesuatu juga tak lantas serta merta saya kabulkan....
Saya selalu berharap, masa indah itu tiba. Dimana Allah mengabulkan do'a saya, dan menjadikan segalanya menjadi jauh lebih baik lagi. amin.