Apa yang lebih membuat sedih hati orang tua selain melihat anak sakit. Tergeletak lemah berhari2, sungguh pemandangan yang menyiksa.
Di cuaca yang tidak menentu seperti sekarang, anak2 mudah terserang sakit. Tak terkecuali si bungsu kami, el. Beberapa hari tergolek lesu di tempat tidur, badan nya panas demam. Belum lagi kakak pasya juga ikutan batuk pilek.
Bolak balik ke rumah sakit sambil memeluk si buah hati yang panas tinggi sungguh menyiksa. Kakak pun terpaksa di titipkan eyang untuk kegiatan sekolah dan les nya.
Saat anak sakit, tak terbayang bisa tidur nyenyak, apalagi istirahat dengan tenang. Anak pasti akan rewel, minta perhatian lebih. Kemana2 selalu nempel dengan saya. Tapi itu tak berarti daripada saya harus terus mendengarkan ngigau nya karna panas tinggi semaleman. Sedih...
Menjadi seorang ibu menjadikan saya pribadi yang tidak boleh lemah, terutama saat anak sakit. Saya harus mempersiapkan stamina double untuk merawat anak2. Bangun sampai larut malam, sedang pagi tetap harus sigap mempersiapkan kebutuhan rumah.
Sebagai ibu pun saya tidak boleh jijik. Saat anak sakit, mereka pasti akan lemah, PUP di sembarang tempat, belum lagi muntah karna kondisi tubuh yang memang lemah.
Saat anak sakit, saya semakin kuat dan dekat denga pasangan. Mencari solusi terbaik pengobatan untuk anak. Batin yang teriris melihat keadaan nya yang lemah tidak boleh kalah denga kondisi yang harus tetap fit.
Semoga anak2 selalu sehat, bukan karna saya tidak ingin merawat mereka tapi lebih karna sakit itu bukan lah pilihan ... karna sehat jauh lebih baik.
Senin, 10 Februari 2014
Sakit
Senin, 03 Februari 2014
Diam
Catatan teman
Dalam diam kutemukan bahasa tubuh mu yang merindukan ku ...
Banyak kata yang tertahan ....
Aku selalu menunggu ....
Karna aku tak ingin untuk memulai mengakhiri diam ini ....
*mencoba memahami*
Sabtu, 01 Februari 2014
Tidak lagi sama
Membaca catatan teman
Bertambah nya usia kebersamaan dengan pasangan semakin terlihat semua hal yang dulu tertutup rapat.
Hal indah di awal kebersamaan yang dulu sering di lakukan perlahan surut seperti arus banjir. Hilang menguap terbawa angin.
Kebersamaan yang ada tak ubah nya sebuah kebiasaan. Bahkan yang dulu adalah kebiasaan indah, kini tidak pernah lagi terjadi.
Bertambah nya waktu bersama membuat saya terbiasa menerima kritik lebih sering di keseharian saya. Tentang apapun. Pujian indah nan menyejukkan jiwa tidak lagi pernah saya dapatkan. Apa saya merindu nya.. tentu saya wanita, tentu pujian adalah hal indah yang selalu saya tunggu. Tapi hal itu surut perlahan bertambah nya hari yang kami lewati. Saya diam, menerima kenyataan bahwa pasangan bukan lah type romantis. Saya tidak menuntut, karna sadar memang tidak sedikit pun pujian yang dulu keluar pantas saya dapatkan (mungkin dulu hanya karna ingin memikat hati saya).
Dulu awal kebersamaan, saya selalu menemukan telepon saya berdering tepat jam makan siang. Suara canda khas yang selalu saya rindu bercerita dari seberang telepon. Tidaklah lama hanya 10 menit, tapi sanggup membuat hari2 saya menjadi "hidup". Tapi sekarang, bahkan saat berjauhan sekalipun saya yang lebih dulu menelpon. Saya diam, menerima kenyataan bahwa romantisme bukan lagi milik kami yang sudah berumur.
Dalam diam saya terus berfikir. Hari2 yang saya lalui bersama anak2 membuat saya kadang melupakan keinginan2 saya terhadap pasangan. Anak2 membuat saya lupa romantisme yang saya rindukan. Anak2 mambuat saya tidak perduli lagi pada kritik yang saya terima atas kesalahan2 saya. Anak2 membuat saya sadar ... bahwa kebersamaan yang ada ini bertahan pun karna mereka, demi mereka.
Saya buang jauh2 harapan saya bisa bersama layak nya pasangan2 dalam sinetron. Saya kubur dalam2 keinginan saya mendapat puja puji layak nya pengantin baru dulu.
Saya berusaha tidak perduli pada apapun kritik yang membuat air mata saya meleleh. Saya tidak lagi perduli kepada keinginan nurani saya, bagi saya keinginan pasangan lah yang utama.
Karna saya tidak lagi "hidup" sekarang ini .. karna jiwa saya telah mati saat ini.
*merenung*