Senin, 26 Mei 2014

Bakat sukses

Mario Teguh beberapa kali menyinggung soal "bagaimana mencari calon suami yang baik dan berbakat sukses di masa mendatang".

Coba kita cermati ....
Berbakat sukses berarti saat kita akan menikah pasangan mempunyai sifat2 yang bisa membuat nya sukses di masa mendatang.

Bakat sukses ... Apa sih?!?!

Menurut Mario Teguh, bakat sukses adalah sifat rajin, kerja keras, jujur dan hormat pada sesama.

Yup... Just that simple.

Tapi 4 hal di atas tentu tidak semua orang memiliki nya. Bisa saja pasangan kita memiliki jabatan "wah" di kanyor nya sekarang, atau dapat warisan milyaran dari keluarga nya. Tapi tanpa sifat2 yang mendukung nya untuk sukses bisa jadi apa yang di dapat sekarang tidak lah langgeng.

Saya merasakan hal tersebut...

Di perjalanan pernikahan, tidak lah selalu mulus dan berlimpah materi. Ada saat di mana kita harus berfikir kreatif untuk bisa tetap memberikan yang terbaik buat keluarga. Di saat seperti ini sifat rajin dan kerja keras di butuhkan. Rajin dan kerja keras untuk tetap ikhtiar, berusaha semaksimal kita mampu tanpa perduli lelah nya tubuh. Karna keluarga adalah prioritas.

Terkadang dalam perjalanan karier maupun sehari2 tak lepas dari godaan. Godaan untuk bisa menambah pemasukkan, godaan mata akan lawan jenis dan banyak lagi. Di saat ini lah jujur di perlukan. Jujur pada pasangan, jujur pada Tuhan dan jujur pada diri sendiri akan "keadaan" diri.

Hormat pada sesama adalah keharusan sifat yang akan membawa kita pada kebaikan. Hubungan baik dengan sesama akan mendatangkan rezeqi dan umur panjang. Itu hadist rasul...

Maka teliti lah sifat2 pasangan sebelum menikah. Apakah memiliki "bakat sukses" .... Karna anda akan menua bersama nya.

Minggu, 25 Mei 2014

Kekurangan

Anak2 yang terlahir dari rahim yang sama pun akan mempunyai kekurangan berbeda. Begitu pun pasya dan el.

Pasya lembut hati nya, mudah tersentuh dan menangis. Sedang el lebih suka aktifitas fisik dan lebih berani.

Kadang gemes ya, melihat pasya tidak berani naik beberapa wahana permainan karna menurut dy terlalu ektrim. Padahal saya dan suami termasuk karakter berani.

Tapi ...
Beberapa buku saya baca, anak punya bawaan sifat yang hanya bisa kita kontrol bukan kita rubah. Seperti sifat takut pasya. Kita bisa kontrol dengan latihan perlahan dan kontinue, tapi untuk hilang sepenuh nya sulit karna itu sifat dasar dy.

Awal2 pasya takut sekali berenang. Ekstrem sampe harus berteriak. Tapi perlahan saya dan suami mengajak nya latihan berenang sampe dy menikmati berenang.

Menerima kekurangan seseorang sebagai bagian dalam keseharian kita jauh lebih sulit, tapi bisa kita lakukan. Berusaha membuat mereka nyaman agar bisa mengontrol sifat2 bawaan mereka.

Sabtu, 24 Mei 2014

Sudah biasa ....

Melakukan apapun kalo sudah biasa akan terasa mudah.

Kata2 bijak yang pasti sering kita dengar ya...

Apapun yang kita lakukan, akan menjadi mudah dan asyik karna 2 hal (menurut saya).

Yang pertama ...
Apa yang kita lakukan adalah sebuah hobby, kesukaan atau passion kita.
Saat melakukan hobby, apa yang di kerjakan tidak lagi terasa berat atau lelah. Waktu berjam2 tidak akan terasa berlalu, rasa lapar maupun kantuk seolah pergi dengan sendiri nya.

Yang kedua ...
Apa yang di lakukan sudah menjadi rutinitas, atau kebiasaan.
Melakukan hal2 yang sejak kecil sudah "menempel"pada keseharian kita, tentu tidak akan berat.

2 hal itu setidak nya perlu dalam sebuah pernikahan.

Anggap kebersamaan dengan keluarga adalah sebuah hobby, kesukaan dan sebuah kenikmatan. Yang jika tidak di lakukan maka akan terasa hilang dalam jiwa.  Anggap pula kebersamaan dengan keluarga adalah sebuah kebiasaan. Yang kalo sehari saja tanpa dengar suara anak2 atau pasangan maka akan terasa hambar.

Kadang bertambah nya usia pernikahan membuat pasangan menjadi lupa atau "menganggap biasa" dengan kebersamaan. Kebersamaan adalah duduk bersama dalam sebuah meja makan, atau diskusi riuh dengan gelak tawa anak2. Pulang dari aktifitas, sibuk dengan kesenangan masing2, bahkan ada yang sudah tak berselera main dengan anak2 karna tak tahan dengan kantuk yang menghujam.

Bukan tidak mungkin apa yang nama nya pernikahan akan menjadi sebuah simbol dalam resmi nya hubungan saja. Tidak akan ada lagi yang nama nya "kangen", bermain bersama atau sekedar duduk2 melepas penat.