Setiap orang pasti ingin punya uang banyak, hidup berkecukupan, dan impian lain yang berhubungan dengan materi. Untuk memenuhi semua nya kita pasti berusaha dengan segala daya upaya yang kita bisa. Kita maksimalkan ikhtiar dan do'a.
Tapi kadang kita lupa, bahwa sebagai manusia kita punya Allah.
Allah punya "takaran" untuk setiap do'a yang kita minta, Allah juga yang berhak mencukupkan segala kekurangan kita. Kita berhak meminta, bahkan Allah suka itu, tapi Allah juga berhak "menunda mengabulkannya".
Semua adalah hak preogratif Allah...
Kita hanya mampu memaksimalkan ikhtiar dan do'a, tanpa menyalahkan Allah atas segala garis hidup yang sudah Allah tetapkan untuk kita. Allah Maha Tau sebesar apa usaha kita, Allah juga Maha Mengerti segala kekurangan kita, tanpa kita mintapun Allah akan cukupkan.
Rabu, 15 Februari 2012
Selasa, 31 Januari 2012
Berapa Tahun....
Sudah berapa tahun usia pernikahan kita??!!
Saya dan pasangan tahun ini memasuki usia pernikahan 6tahun, bilangan angka yang tidak sedikit dan bilangan waktu yang juga tidak sebentar. Tapi bukan itu yang hendak saya share dengan anda, melainkan berapa banyak sudah waktu berkualitas yang anda dan pasangan habiskan hanya untuk menikmati moment indah, berdua saja.
Bagi pasangan yang belum punya momongan tentu hal ini bukan lah hal yang sulit. Tapi tidak bagi saya dan pasangan. Waktu kami sangat "sempit" untuk bisa sekedar duduk berdua menikmati tontonan televisi, ya anak-anak banyak "menyita" waktu dan perhatian kami. Namun hal tersebut tidaklah lantas membuat kami menjadi pasangan pasif satu sama lain. Kami coba untuk tetap menghangatkan suasana dengan sekedar melempar "senyum nakal" saat makan malam atau candaan-candaan "halus" yang anak-anak tidak mengerti.
Jangan jadikan usia pernikahan yang terus bertambah membuat hubungan kita menjadi tua. Padahal, banyak hal indah yang bisa kita lakukan tanpa harus mengurangi waktu kebersamaan kita dengan anak-anak. Foto berdua saat sedang berwisata juga bisa menjadi moment pengikat kemesraan, jangan lupa dengan pose yang mesra tentu nya.
Jangan tanya berapa usia pernikahan oarang sekitar anda, tapi lihat lah kemesraan yang mereka tabur sehingga orang lain menjadi iri melihat nya.
Saya dan pasangan tahun ini memasuki usia pernikahan 6tahun, bilangan angka yang tidak sedikit dan bilangan waktu yang juga tidak sebentar. Tapi bukan itu yang hendak saya share dengan anda, melainkan berapa banyak sudah waktu berkualitas yang anda dan pasangan habiskan hanya untuk menikmati moment indah, berdua saja.
Bagi pasangan yang belum punya momongan tentu hal ini bukan lah hal yang sulit. Tapi tidak bagi saya dan pasangan. Waktu kami sangat "sempit" untuk bisa sekedar duduk berdua menikmati tontonan televisi, ya anak-anak banyak "menyita" waktu dan perhatian kami. Namun hal tersebut tidaklah lantas membuat kami menjadi pasangan pasif satu sama lain. Kami coba untuk tetap menghangatkan suasana dengan sekedar melempar "senyum nakal" saat makan malam atau candaan-candaan "halus" yang anak-anak tidak mengerti.Jangan jadikan usia pernikahan yang terus bertambah membuat hubungan kita menjadi tua. Padahal, banyak hal indah yang bisa kita lakukan tanpa harus mengurangi waktu kebersamaan kita dengan anak-anak. Foto berdua saat sedang berwisata juga bisa menjadi moment pengikat kemesraan, jangan lupa dengan pose yang mesra tentu nya.
Jangan tanya berapa usia pernikahan oarang sekitar anda, tapi lihat lah kemesraan yang mereka tabur sehingga orang lain menjadi iri melihat nya.
Senin, 30 Januari 2012
Memilah Kasih Sayang
Sebagai Ibu rasanya tak mungkin kalo saya tak sayang pada anak-anak.
Tapi tak bisa di pugkiri, kadang muncul "sifat" memilah kasih sayang pada si sulung dan ade nya. Sejak kelahiran si kecil, memang saya akui saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan si kecil, selain ASI ekslusif bagi saya mempunyai anak laki-laki yang memang di tunggu kehadiran nya membuat saya bahagia "berlebihan". Sampai saya "melupakan" keberadaan si sulung.
Pada banyak kesempatan, si sulung lebih banyak main sendiri, tanpa mendapat perhatian dari saya. Kalopun saya menemaninya, mata saya tidak lepas dari si kecil atau gadget pribadi. Kesibukan pekerjaan rumah pun kadang membuat fisik saya lelah dan ogah-ogahan membagi waktu istirahat saya dengan menemani si sulung.
Tak jarang saya merindukan nya saat dia sekolah, mengamati foto nya sambil tertunduk sedih jika mengingat kekasaran saya memarahi nya tapi seketika rasa itu sirna jika kembali dia membuat "ulah".
Pagi ini pun begitu, si sulung berangkat sekolah dengan eyang nya karena saya marah besar saat mendapati nya menangis tanpa sebab saat saya menyuruhnya mandi. Padahal di malam sebelumnya, saya telah berkali berpesan, besok sudah waktu nya dia sekolah jangan rewel yang nanti nya membuat saya marah. Tapi rasa nya "peringatan" saya hanya lah kata-kata semata untuk nya, kembali dia mebuat "ulah",,, Ya Allah....
Berkali saya bertanya dalam hati, kenapa saya seolah tak memberinya "tempat" di hati saya. Kenapa saya seolah selalu menjadikan dia "tersangka" dari setiap kesalahan yang ada. Kenapa saya tak bisa sabar menghadapi nya dan ribuan kenapa lain nya bertebangan di otak saya...
Si sulung memang salah satu jembatan surga saya, jembatan untuk menggapai surga nya yang nyata. Tapi kenapa saya masih saja tidak bisa "berdamai" dengan nya??!!
Semoga Allah mengampuni saya...
Tapi tak bisa di pugkiri, kadang muncul "sifat" memilah kasih sayang pada si sulung dan ade nya. Sejak kelahiran si kecil, memang saya akui saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan si kecil, selain ASI ekslusif bagi saya mempunyai anak laki-laki yang memang di tunggu kehadiran nya membuat saya bahagia "berlebihan". Sampai saya "melupakan" keberadaan si sulung.
Pada banyak kesempatan, si sulung lebih banyak main sendiri, tanpa mendapat perhatian dari saya. Kalopun saya menemaninya, mata saya tidak lepas dari si kecil atau gadget pribadi. Kesibukan pekerjaan rumah pun kadang membuat fisik saya lelah dan ogah-ogahan membagi waktu istirahat saya dengan menemani si sulung.
Tak jarang saya merindukan nya saat dia sekolah, mengamati foto nya sambil tertunduk sedih jika mengingat kekasaran saya memarahi nya tapi seketika rasa itu sirna jika kembali dia membuat "ulah".
Pagi ini pun begitu, si sulung berangkat sekolah dengan eyang nya karena saya marah besar saat mendapati nya menangis tanpa sebab saat saya menyuruhnya mandi. Padahal di malam sebelumnya, saya telah berkali berpesan, besok sudah waktu nya dia sekolah jangan rewel yang nanti nya membuat saya marah. Tapi rasa nya "peringatan" saya hanya lah kata-kata semata untuk nya, kembali dia mebuat "ulah",,, Ya Allah....
Berkali saya bertanya dalam hati, kenapa saya seolah tak memberinya "tempat" di hati saya. Kenapa saya seolah selalu menjadikan dia "tersangka" dari setiap kesalahan yang ada. Kenapa saya tak bisa sabar menghadapi nya dan ribuan kenapa lain nya bertebangan di otak saya...
Si sulung memang salah satu jembatan surga saya, jembatan untuk menggapai surga nya yang nyata. Tapi kenapa saya masih saja tidak bisa "berdamai" dengan nya??!!
Semoga Allah mengampuni saya...
Langganan:
Postingan (Atom)