Minggu, 24 Agustus 2008

Mo di siksa kok senenk???!!!

Minggu yang lalu, kita sekeluarga tamasya ke dufan (dunia Fantasi, Ancol). Ga banyak yang bisa kami lakukan di sana, maklum aja, Pasya masih sangat kecil untuk bisa menikmati kehebohan di sana, sedangkan kami, orang tuanya, sibuk juga "menenangkan" Pasya yang kadang - kadang panik karena Dufan yang begitu ramai.
Di sana, kami hanya menikmati wahana istana boneka, karena hanya itu wahanya yang tidak antri dan bisa kami naiki bersama. Didalamnya, Pasya juga belum bisa duduk manis untuk menikmati suasana, karena di dalam keadaan begitu gelap, dan musik yang ada keras banget, alhasil Pasya aga rewel.
Setelah berhasil menuntaskan permainan di wahana Istana Boneka, Ayahnya Pasya merasa tertantang untuk mencoba wahana Tornado. Wahana yang paling banyak "nongol" di iklan Dufan. Dengan senyum keberaniannya Ayahnya "mejeng" nunggu antrian di tornado, maklumlah walaupun termasuk salah satu wahana yang menakutkan, tapi tetep aja banyak peminatnya. Dan akhirnya gilirannya pun tiba. Dengan penuh antusias dia memilih tempat duduk di tengah, mungkin biar lebih jelas keliatan dari bawah, karena kami menonton di bawah.
Hu.......Ha...Hi........
Suasana gaduh begitu penjaga mulai memainkan tornado. Teriakan penuh keteganganpun dimulai. Seru banget rasanya melihat kehebohan itu dari bawah. Sambil aku membayangkan, bagaimana ya rasanya duduk di kursi "siksaan" itu.hehehehe..
Setelah selesai permainan itu, Ayahnya Pasya pun turun menemui kami. Wajahnya tak berubah sama sekali, tetap sumringah. Lalu dia bilang "huh...heboh de, seneng plus puyeng karena kepalanya di kebawahin terus"
Kami lalu meneruskan perjalanan, mengitari Dufan, melihat kehebohan pengunjung lainnya.Kami lalu berfikir, kok aneh ya, mo di "siksa" tapi antusias banget, sampai rela antri kepanasan segala lagi....Wah - wah emang salut deh buat pengunjung Dufan.







Kamis, 24 Juli 2008

Apa Kebahagiaan Terbesarmu???

Aku pernah bertanya pada Ayahnya Pasya, Apa kebahagiaan terbesar dalam hidupnya....Ternyata tak perlu waktu lama untuk dia menjawabnya. "Istri dan Anak Ayah adalah kebahagiaan terbesar buat Ayah, karena dengan adanya mereka Ayah semakin dekat dengan Allah."
Aku terkesima dengan jawaban itu, jawaban yang singkat, jelas dan tanpa rekayasa. Banyak dari teman2 yang aku tanyakan hal yang sama, tapi jauh dari jawaban itu. Meraka lebih suka mengukur kebahagiaan dari hal yang "kasat mata" saja. Tapi jawaban suamiku membuat aku kembali berfikir, sebenarnya apa sih yang membuat aku bahagia???
Sudah 4hari ini Ayah Pasya keluar kota, ke Kalimantan. Kali ini aku merasa ini adalah perjalanannya yang paling membuat aku begitu khawatir dan terbelenggu kerinduan, bagaimana tidak, selama disana hanya beberapa kali saja kita bisa saling berkomunikasi, karena terbatasnya signal, padahal aku sangat mengkhawatirkannya.
Rasanya do'a tak putus2 aku panjatkan untuk keselamatannya. Aku tak meminta banyak dalam do'a ku, aku hanya meminta keselamatan untuk suami dan anakku.
Dan pagi ini, aku mendapat kejutan manis dari Pasya cantikku. Di usianya yang hampir 10Bln (3hari lagi), dia memberikan aku kejutan manis dengan bertepuk tangan sambil bersenandung. Rupanya lagu "Pok Ami2" yang sering aku, Ayahnya dan Eyangnya lantunkan termemori di pikirannya, dan hari ini dia bisa bersenandung lengkap dengan gerakannya.
Ah...
Ternyata benar. Berapa banyakpun harta yang kita punya tak akan lengkap tanpa pasangan hidup yang setia dan anak yang sehat dan normal. Suamiku memang benar. Dengan adanya pasangan hidup dan anak, kita jadi semakin dekat dengan Allah. Kita jadi semakin pasrah, legowo, dan sabar.
Terima kasih ya Allah, karena segala kebaikanmu. Walaupun aku telah berbuat banyak kesalahan, namun kasihmu masih berlimpah kepadaku. Jaga selalu Suami dan anak2ku ya Allah, jadikan mereka Suami dan Anak2ku tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. amin



Kamis, 26 Juni 2008

Siapa sih Anda???!!!


Pertanyaan itu selalu muncul dalam benakku saat aku bersitegang dengan si Boss. Bukannya aku ga menghargai dia sebagai atasan, tapi perilaku dia yang tidak "manusiawi" terhadap kami karyawannya membuat aku marah. Tak jarang dia marah-marah tanpa sebab, belum lagi dengan kata-katanya yang lebih mirip "orang tak berpendidikan" dari pada seorang intelek.


Siapa sih Anda Pak???


Jika Anda pikir Anda adalah Tuhan hanya karena kami "menumpang" makan dari tangan Anda, Anda salah besar. Kami memang "mengabdi" pada Anda pak, tapi itu tak lebih sebatas karyawan, bukan sebagai "budak". Kami juga manusia, kami mengerti bahasa yang Bapak katakan, bahkan bukannya tidak mungkin kalo kami jauh lebih intelek di bandingkan Bapak.

Kami mungkin sering membuat kesalahan, tapi apakah Bapak juga tidak??!! Kita semua sama Pak, tak ada beda, hanya "garis tangan Tuhan" yang membuat kami sekarang menunduk di depan Bapak, tak lebih. Bukan menunduk tanda kami takut, tapi karena kami masih menghargai Bapak.

Tolonglah kita bisa berfikir secara dewasa, kembalikan semuanya ke dalam hati nurani kita. Apa kita ini satu Visi??!! Visi memajukan perusahaan untuk kepentingan kita bersama, bukan untuk keegoisan dan kearoganan kita??!!Mari kita dewasa, dan memposisikan diri kita sebagai "manusia" agar kita bisa melihat orang lain juga sebagai manusia, bukan binatang.