Kamis, 20 Maret 2008

Kehadiran Yang Tak Tergantikan....

Saat anak itu masih terlelap papa-mamanya harus segera bersiap untuk pergi kerja.
ketika ia sudah tertidur pulas dengan mimpi indah papa-mamanya baru saja sampai dirumah. Ketika ia diminta oleh salah seorang guru untuk menceritakan papa-mamanya didepan kelas, ia hanya diam terpaku tanpa sepatah kata.

Didalam benaknya tak pernah terukir figure papa-mama seperti apa.
Yang ia ingat hanyalah semua hadiah dan barang mewah yang selalu dijejalkan padanya tanpa kata-kata.
Begitulah kira-kira kehidupan sang anak hingga ia dewasa.

Anak bukanlah alasan agar kita bekerja tanpa henti.
Ia butuh kehadiran kita, bukan hanya untuk menyediakan semua materi.
Tetapi untuk membimbing dan menuntunnya kemasa depan.

INGAT !!!!!

Tidak ada pohon yang kokoh tanpa akar yang kuat.
Biarlah kita para orang tua menjadi akar yang kuat agar pohon kita tidak pernah goyah diterpa angin badai masa depan.

(Artikel ini di kutip sesuai aslinya dari Blog teman elieloe.blogs.friendster.com, semoga kita sebagai orang tua bisa lebih bijak lagi mempergunakan waktu kita dan bisa memilih mana hal yang prioritas, uang kah atau keluarga??!!)

Sabtu, 15 Maret 2008

Anakku Anak Sapi??!!

Aku ga pernah menduga bahwa sebuah pertemanan yang ku bangun dengan niatan baik malah berakhir dengan sebuah ending yang ga baik. Aku memang kadang sulit untuk membedakan mana teman yang bisa aku ajak untuk "sehidup semati" mana yang tidak.

Semua berawal dari sebuah perbincangan ringanku dengan dia lewat sebuah sms. Kami berbincang tentang anak kami. Aku menanyakan tentang kabar anaknya yang usianya memang tak jauh beda dengan putri kecilku, Pasya. Sudah bisa apa dia, sejauh mana perkembangannya dan banyak lagi. Tapi ternyata aku masuk dalam sebuah lubang pertanyaan yang ujungnya justru menyulut perdebatan di antara aku dan dia. Dia menanyakan sejauh mana aku memberikan nutrisi untuk Pasyaku, apa aku masih memberikan ASI atau tidak. Aku menjawab dengan santai, bahwa aku menambahkan susu formula sebagai pendamping ASI untuk Pasyaku, hal itu pun aku lakukan bukan karena sengaja, tapi semata karena ASI ku tidak lagi mencukupi untuk menahan lapar Pasyaku. Mulailah perdebatan sengit itu. Aku mulai di hakimi dengan kata - kata yang sangat kejam, kata - kata yang membuatku seolah tak pantas menjadi seorang Ibu. Aku adalah Ibu yang jahat (itulah pandangannya tentang aku...) Aku berontak, dalam hati aku mengutuk perbuatan bodohku yang tanpa berpikir panjang memulai diskusi ini dengannya. Tapi aku seolah kalah dalam semua pernyataan yang aku kemukakan padanya. Aku kalah...

Waktu berlalu sejurus dengan perbincanganku dengannya. Aku berusaha tidak membuat apa yang kami bahas itu sebagai sebuah permasalahan. Aku masih menganggapnya sebagai seorang teman yang mengingatkan aku akan kesalahanku yang tidak bisa memberikan nutrisi terbaik untuk buah hatiku, yaitu ASI. Tapi 01_SAPIternyata kekecewaanku tak hanya sampai di situ. Lagi - lagi aku kecewa dengannya. Kali ini jauh lebih kecewa.. Bagaimana tidak, sebagai seorang Ibu yang telah bertaruh nyawa saat melahirkan buah hatiku, tiba - tiba saja tanpa tendeng aling - aling dia menyebut buah hatiku sebagai ANAK SAPI hanya karena aku memberinya susu formula sebagai pendamping ASI.

Ya Allah.... Aku sangat tidak percaya dengan kenyataan yang ku dengar. Rasanya aku bagai di lempari kotoran olehnya. Sebuah pertemanan yang selama ini aku jaga dengan baik, ternyata berakhir hanya seperti ini. Aku marah, tapi lagi - lagi tidak bisa ku lampiaskan langsung padanya. Aku masih berfikir sehat, aku tak mau membuka jurang permusuhan di antara kami. Aku masih harus bertemu dengannya setiap minggu. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku kalo aku terluka akan kata - katanya.

Saat ini aku bagai seorang pelajar yang semua tindakanku atas buah hatiku selalu di nilai oleh dia. Aku harus jadi JUARA, aku ga boleh SALAH.... Dan pada akhirnya aku STRESS. Aku selalu terobsesi dengan keadaan buah hatiku, dia HARUS sehat, GA BOLEH SAKIT, barat badannya HARUS ideal dsb. Lama kelamaan aku seolah menjadikan Pasyaku sebagai objek percobaanku. Aku buat dia menjadi yang temanku inginkan... Aku salah, salah besar!!!! Buah hatiku adalah permataku, buah hatiku.. Aku ga boleh menjadikannya sebagai bahan obsesiku. Aku harus membiarkannya tumbuh seperti apa adanya. Biar dia menjadi bintang indah di hatiku, bukan kelinci pesakitan di tanganku.....

Senin, 18 Februari 2008

Allah Mengajari Kami Untuk Saling Ber-Empati

Baru saja hari minggu kemarin Bidadari Kecilku pulang dari Rumah Sakit karena Panas tinggi dan Diare, eh sekarang Ayahnya yang masuk Rumah Sakit, karena Operasi Hernia.

Aku memang ga menyalahkan keadaan, karena aku tau, memang sudah seharusnya hal ini terjadi. Tapi rasanya rasa lelah minggu lalu belum juga lepas dari badan ini, sekarang sudah di "paksa" lagi untuk kembali berpacu dengan waktu dan berbagi antara Ayahnya di Rumah Sakit dengan Pasyaku di rumah.

Dalam kelelahan menunggui Ayahnya Pasya yang masih terbaring lemas karena baru saja keluar dari Rumah Sakit, aku mencoba menelaah apa hikmah indah dari kejadian berurut ini. Aku mencoba melihat kembali ke beberapa waktu yang lalu. Saat aku terbaring lemas di kasur Rumah Sakit 4 bulan silam, saat harus melahirkan Pasyaku lewat Operasi Caesar, keadaanku tak jauh berbeda dengan Ayahnya Pasya sekarang. Lemah, badan rasanya tak beraturan rasanya, makan tak lagi menyenangkan seperti di rumah, apalagi tidur, rasanya aku tak pernah lagi bermimpi...Aku banyak "mengajarkan" pada Ayahnya Pasya tentang hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh sehabis Operasi. Disinilah aku sadar tentang 1 hal, bahwa saat ini Allah sedang mengajarkan kami untuk saling ber-Empati. Ayahnya Pasya jadi tau rasanya terbaring lemas di kasur Rumah Sakit dengan selang infus dan jahitan di tubuhnya, mau gerak aja susah apa lagi mau jalan. Sedangkan saya di ajarkan untuk tau bagaimana capeknya Ayahnya Pasya dulu mondar mandir ke Rumah Sakit setiap hari, naik turun lift untuk sekedar cari makanan yang saya mau atau menebus obat keperluan saya dan Pasya. Kami juga di ajarkan untuk saling "berbagi" dalam ketakutan kami menanti kabar dari ruang Operasi. Belum lagi be-BTan menunggu Dokter Bedahnya Visit, maklumlah Dokter Bedah yang menangani kami adalah salah satu Dokter Bedah yang cukup laris di Rumah Sakit itu.

Itulah hikmah yang sejauh ini kami rasakan. Kami belajar untuk lebih "berterima kasih" lagi dengan kebersamaan kami yang selama ini kami rasakan.