Jumat, 21 Maret 2008

Spontan Dikit donk..Yang!!! (panggilan sayang kepada pasangan)


Kadang ada hal yang suami lakukan yang membuat saya kesal. Terutama saat manyangkut Pasya, anak semata wayang kami. Bagaimana tidak saat Pasya PUP contohnya, suami bukannya membersihkannya malah berteriak kesal " Bunda, Pasya PUP nih..." Aduh, padahal saat itu saya sendiri bukannya sedang santai atau berleha - leha, tak jarang saat hal itu terjadi saya sedang makan atau bahkan sibuk dengan pekerjaan rumah lainnya.

Sudah berkali - kali saya menyampaikan kekesalan saya ini pada suami, tak lain agar suami lebih "berempati" pada keadaan saya. Tapi yang saya dapat ya hanya alasan klise nya yang sudah entah untuk keberapa kali dia ungkapkan. Apalagi untuk masalah PUP Pasya, pasti alasannya klise, " Bunda, Ayah kan ga kuat dengan bau yang ga enak di hidung, nanti Ayah muntah..." Tak jarang saya luluh juga dengan alasannya, tapi saya tak memintannya lagi untuk membersihkan PUP Pasya, tapi hanya melihatnya, apakah benar Pasya PUP, tapi ya tetap saja hal itu hanyalah kata - kata....Akhirnya saya juga yang harus turun tangan.

Saya terbiasa dengan segala hal yang cepat, semua hal harus di kerjakan dengan cepat. Tapi kadang suami tidak. Terutama saat dia berhadapan dengan laptop kesayangannya dan terhubung deng an internet, duh jangan harap deh dia akan berfikir spontan dengan hal yang terjadi 
di sekitarnya, yang ada ya harus saya lagi yang mengingatkannya.

Tapi kata teman - teman hal itulah yang justru melengkapi kebersamaan kami. Suami menutupi segala kekurangan saya di berbagai hal, sedangkan saya menjadikan kelebihan saya untuk melengkapi kekurangan dia. Saya juga tak pernah bosan untuk selalu mengingatkan dia untuk tetap "spontan" saat ada hal yang memang harus segera di lakukan. Spontan dikit donk, yang....

Kamis, 20 Maret 2008

Kehadiran Yang Tak Tergantikan....

Saat anak itu masih terlelap papa-mamanya harus segera bersiap untuk pergi kerja.
ketika ia sudah tertidur pulas dengan mimpi indah papa-mamanya baru saja sampai dirumah. Ketika ia diminta oleh salah seorang guru untuk menceritakan papa-mamanya didepan kelas, ia hanya diam terpaku tanpa sepatah kata.

Didalam benaknya tak pernah terukir figure papa-mama seperti apa.
Yang ia ingat hanyalah semua hadiah dan barang mewah yang selalu dijejalkan padanya tanpa kata-kata.
Begitulah kira-kira kehidupan sang anak hingga ia dewasa.

Anak bukanlah alasan agar kita bekerja tanpa henti.
Ia butuh kehadiran kita, bukan hanya untuk menyediakan semua materi.
Tetapi untuk membimbing dan menuntunnya kemasa depan.

INGAT !!!!!

Tidak ada pohon yang kokoh tanpa akar yang kuat.
Biarlah kita para orang tua menjadi akar yang kuat agar pohon kita tidak pernah goyah diterpa angin badai masa depan.

(Artikel ini di kutip sesuai aslinya dari Blog teman elieloe.blogs.friendster.com, semoga kita sebagai orang tua bisa lebih bijak lagi mempergunakan waktu kita dan bisa memilih mana hal yang prioritas, uang kah atau keluarga??!!)

Sabtu, 15 Maret 2008

Anakku Anak Sapi??!!

Aku ga pernah menduga bahwa sebuah pertemanan yang ku bangun dengan niatan baik malah berakhir dengan sebuah ending yang ga baik. Aku memang kadang sulit untuk membedakan mana teman yang bisa aku ajak untuk "sehidup semati" mana yang tidak.

Semua berawal dari sebuah perbincangan ringanku dengan dia lewat sebuah sms. Kami berbincang tentang anak kami. Aku menanyakan tentang kabar anaknya yang usianya memang tak jauh beda dengan putri kecilku, Pasya. Sudah bisa apa dia, sejauh mana perkembangannya dan banyak lagi. Tapi ternyata aku masuk dalam sebuah lubang pertanyaan yang ujungnya justru menyulut perdebatan di antara aku dan dia. Dia menanyakan sejauh mana aku memberikan nutrisi untuk Pasyaku, apa aku masih memberikan ASI atau tidak. Aku menjawab dengan santai, bahwa aku menambahkan susu formula sebagai pendamping ASI untuk Pasyaku, hal itu pun aku lakukan bukan karena sengaja, tapi semata karena ASI ku tidak lagi mencukupi untuk menahan lapar Pasyaku. Mulailah perdebatan sengit itu. Aku mulai di hakimi dengan kata - kata yang sangat kejam, kata - kata yang membuatku seolah tak pantas menjadi seorang Ibu. Aku adalah Ibu yang jahat (itulah pandangannya tentang aku...) Aku berontak, dalam hati aku mengutuk perbuatan bodohku yang tanpa berpikir panjang memulai diskusi ini dengannya. Tapi aku seolah kalah dalam semua pernyataan yang aku kemukakan padanya. Aku kalah...

Waktu berlalu sejurus dengan perbincanganku dengannya. Aku berusaha tidak membuat apa yang kami bahas itu sebagai sebuah permasalahan. Aku masih menganggapnya sebagai seorang teman yang mengingatkan aku akan kesalahanku yang tidak bisa memberikan nutrisi terbaik untuk buah hatiku, yaitu ASI. Tapi 01_SAPIternyata kekecewaanku tak hanya sampai di situ. Lagi - lagi aku kecewa dengannya. Kali ini jauh lebih kecewa.. Bagaimana tidak, sebagai seorang Ibu yang telah bertaruh nyawa saat melahirkan buah hatiku, tiba - tiba saja tanpa tendeng aling - aling dia menyebut buah hatiku sebagai ANAK SAPI hanya karena aku memberinya susu formula sebagai pendamping ASI.

Ya Allah.... Aku sangat tidak percaya dengan kenyataan yang ku dengar. Rasanya aku bagai di lempari kotoran olehnya. Sebuah pertemanan yang selama ini aku jaga dengan baik, ternyata berakhir hanya seperti ini. Aku marah, tapi lagi - lagi tidak bisa ku lampiaskan langsung padanya. Aku masih berfikir sehat, aku tak mau membuka jurang permusuhan di antara kami. Aku masih harus bertemu dengannya setiap minggu. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku kalo aku terluka akan kata - katanya.

Saat ini aku bagai seorang pelajar yang semua tindakanku atas buah hatiku selalu di nilai oleh dia. Aku harus jadi JUARA, aku ga boleh SALAH.... Dan pada akhirnya aku STRESS. Aku selalu terobsesi dengan keadaan buah hatiku, dia HARUS sehat, GA BOLEH SAKIT, barat badannya HARUS ideal dsb. Lama kelamaan aku seolah menjadikan Pasyaku sebagai objek percobaanku. Aku buat dia menjadi yang temanku inginkan... Aku salah, salah besar!!!! Buah hatiku adalah permataku, buah hatiku.. Aku ga boleh menjadikannya sebagai bahan obsesiku. Aku harus membiarkannya tumbuh seperti apa adanya. Biar dia menjadi bintang indah di hatiku, bukan kelinci pesakitan di tanganku.....