Kamis, 31 Januari 2008

KENIKMATAN MENJADI SEORANG IBU

Seorang teman yang kebetulan punya aktifitas di luar rumah sempat “menghakimi” saya dalam mengasuh buah hati. Dia beranggapan keberadaan saya yang lebih banyak di rumah seharusnya membuat saya jauh lebih “berhasil” dalam mengasuh buah hati. Saya sendiri kurang paham dengan makna kata “berhasil” yang di maksud olehnya, namun kategori yang di garis bawahi olehnya adalah “keberhasilan” saya dalam memberikan nutrisi juga kasih sayang terhadap buah hati.

Dia membanggakan diri karena dengan keadaannya yang aktif di luar rumah masih “mampu” memberikan nutrisi utama bagi si buah hati yaitu ASI, sedangkan saya yang notabene adalah ibu yang hanya “aktif” di sekitar rumah malah mempercayakan nutrisi buah hati pada susu formula, sebagai pendamping ASI. Saya curhat pada suami, saya merasa bukan ibu yang baik bagi buah hati kami. Tapi suami bertanya kepada saya, apa kategori ibu yang baik??!! Ibu yang baik adalah ibu yang selalu ada untuk buah hatinya, kapanpun si buah hati membutuhkan. Bukan hanya di nilai dengan kita memberikan ASI atau tidak.

Bukankah saya selalu ada saat buah hati memerlukan saya…. Setiap dia bangun tidur saya adalah orang pertama yang selalu di lihatnyamother-child-photo-2, begitu juga setiap dia hendak tidur, saya adalah orang terakhir yang di pandangnya. Saat dia sedang sakit, di mana di saat itulah dia paling suka bermanja – manja, saya juga selalu “stand by” di sampingnya. Saya juga selalu jadi orang pertama yang tau akan “kepintarannya” melakukan sesuatu, juga tumbuh kembangnya. Mungkin teman saya memang “super mom”, apa seh yang ga bisa dia lakukan, menjadi ibu iya, mencari nafkah pun iya. Tapi satu hal yang dia lupa sebagai seorang ibu, bahwa ada sebuah kenikmatan tersendiri melihat tumbuh kembang buah hati secara langsung, bukan hanya menunggu kabar dari si “mbok” yang menjaganya.

Maka sekarang saya belajar PD dengan keadaan saya yang masih saja “berkutat” dengan buah hati, bukannya memilih menjadi wanita karier seperti kebanyakan teman- teman saya. Toh semuanya hanya masalah waktu, saat nanti buah hati siap saya juga akan mencari “kesibukan” lain, tapi untuk sekarang, rasanya tak adil meninggalkan buah hati hanya untuk “keegoisan” sesaat saya.

Tidak ada komentar: